
Guru MIN 14 Al-Azhar Asy-Syarif Bagikan Gagasan Pembelajaran SKI Berbasis Cinta di REBORN CLAS
Jakarta (Humas MIN 14) --- Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) tidak selalu harus identik dengan hafalan dan catatan panjang. Ada cara yang lebih hangat, menyentuh hati, dan membekas pada peserta didik. Itulah pesan utama yang dibawa oleh Suhailid, M.Hum, guru SKI MIN 14 Al-Azhar Asy-Syarif, saat menjadi narasumber dalam acara REBORN CLASS Spesial Hari Kemerdekaan Seri 18 yang digelar pada Rabu (13/08/2025).
Acara ini mengusung tema Menyelami Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta pada CP SKI. Diselenggarakan secara daring melalui live streaming YouTube Pusbangkom SDM dan Pintar Kemenag, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Suhailid dan Asep Eka Mulyandudin, S.Pd.I., M.Pd dari MAN 4 Jakarta. Dipandu oleh host Ridha Fatihah, S.Sos, acara berlangsung interaktif dan penuh inspirasi.
Dalam pemaparannya, Suhailid menjelaskan bahwa deep learning dalam pembelajaran SKI berarti mengajak siswa memahami makna, pesan moral, dan relevansi sejarah Islam dengan kehidupan mereka saat ini. “Kita ingin siswa tidak hanya tahu peristiwa, tapi juga merasakan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Itulah yang akan membentuk karakter,” ujarnya.
Ia juga memperkenalkan konsep kurikulum berbasis cinta yang menurutnya menjadi kunci agar pembelajaran lebih bermakna. Dengan cinta, guru dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan siswa, menciptakan suasana belajar yang nyaman, dan mendorong siswa untuk mencintai pelajaran SKI. “Cinta adalah jembatan. Kalau anak sudah cinta, ia akan belajar dengan sukarela, bukan karena terpaksa,” tambahnya.
Suhailid memberikan contoh penerapan konsep ini, mulai dari metode bercerita dengan penuh ekspresi, mengaitkan kisah tokoh sejarah dengan tantangan masa kini, hingga memberi ruang dialog dua arah di kelas. Ia menegaskan bahwa guru perlu kreatif dan empatik agar pelajaran SKI terasa hidup di hati siswa.
Kepala MIN 14 Al-Azhar Asy-Syarif, Ru’yat Ismail, mengapresiasi peran aktif Suhailid dalam berbagi gagasan di forum nasional ini. “Kami bangga ada guru MIN 14 yAl-Azhar Asy-Syarif yang bisa memberikan inspirasi untuk guru-guru di seluruh Indonesia. Pemikiran seperti ini sejalan dengan visi kami untuk mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan mencintai sejarahnya,” ungkap Ru’yat.
Selain memaparkan konsep, Suhailid juga menjawab berbagai pertanyaan peserta mengenai tantangan mengajar SKI di era digital. Ia menekankan bahwa teknologi bisa menjadi sahabat, asalkan digunakan untuk memperkuat pesan pembelajaran, seperti lewat media video, podcast, atau kuis interaktif.
Acara ini ditutup dengan pesan Suhailid yang menegaskan kembali pentingnya hati dalam mengajar. “Guru yang mengajar dengan hati akan menumbuhkan generasi yang belajar dengan hati. Itulah inti dari kurikulum berbasis cinta,” tuturnya. Pesan ini menjadi penutup yang manis dan menguatkan semangat para pendidik untuk terus berinovasi dalam mengajar SKI. (dm)